16 August 2011

Maulana Muhammad Ilyas Al Kandahlawi


Penggagas Jamaah Tabligh


Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy lahir pada tahun 1303 H (1886) di desa Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Utar Prades, India. Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan Ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama. Saudaranya antara lain Maulana Muhammad yang tertua, dan Maulana Muhammad Yahya.
Ayah beliau, Syaikh Muhammad Ismail adalah seorang ruhaniwan besar yang suka menjalani hidup dengan ber-uzhlah, berkhalwat dan beribadah, membaca Alquran serta mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu agama. Adapun ibunda beliau, Shafiyah Al-Hafidzah, adalah seorang Hafidzah Alquran. Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada kakeknya, Syaikh Muhammad Yahya. Beliau adalah seorang guru agama pada madrasah di kota kelahirannya. Kakeknya adalah penganut mazhab Hanafi dan teman dari seorang ulama dan penulis Islam terkenal, Syaikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi. Sejak saat itulah beliau mulai menghafal Alquran. Dari kecil telah tampak ruh dan semangat agama dalam dirinya. Beliau memilki kerisauan terhadap umat, agama dan dakwah. Sehingga Allamah Asy-Syaikh Mahmud Hasan yang dikenal sebagai Syaikhul Hind (guru besar ilmu Hadis pada madrasah Darul Ulum Deoband) pernah mengatakan, “sesungguhnya apabila aku melihat Maulana Ilyas aku teringat kisah perjuangan para sahabat.”
Pada suatu ketika saudaranya, Maulana Muhammad Yahya, pergi belajar kepada seorang alim besar dan pembaru yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh, Utar Pradesh, India. Maulana Muhammad Yahya belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu dengan bimbingan Syaikh Rasyid. Hal ini membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana kakaknya. Akhirnya Maulana Ilyas memutuskan untuk belajar agama menyertai kakaknya di Gangoh. Akan tetapi selama tinggal dan belajar di sana Maulana Ilyas selalu menderita sakit. Sakit ini ditanggungnya selama bertahun-tahun lamanya. Tabib Ustadz Mahmud Ahmad putra dari Syaikh Gangohi sendiri telah memberikan pengobatan dan perawatan pada beliau. Sakit yang dideritanya menyebabkan kegiatan belajarnya pun menurun, akan tetapi beliau tidak berputus asa. Banyak yang menyarankan agar beliau berhenti belajar untuk sementara waktu, tapi beliau menjawab, “apa gunanya aku hidup jika dalam kebodohan”.
Dengan izin Allah SWT, Maulana pun menyelesaikan pelajaran Hadis Syarif, Jamiat Tirmidzi dan Shahih Bukhari. Dan dalam jangka waktu empat bulan beliau sudah menyelesaikan Kutubus Sittah. Tubuhnya yang sering terserang sakit semakin membuat beliau bersemangat dalam menuntut ilmu. Begitu pula kerisauannya bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh dari syariat Islam. Beliau akhirnya berkenalan dengan Syaikh Khalid Ahmad As-Sharanpuri penulis kitab Bajhul Majhud Fi Hilli Alfazhi Abi Dawud dan berguru kepadanya. Semakin bertambah ilmu yang dimiliki membuat beliau semakin tawaddu serta dihormati di kalangan para ulama dan masyaikh. Suatu ketika di Kandhla ada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh ulama-ulama besar. Di antaranya terdapat nama Syaikh Abdurrahman Ar-Raipuri, Syaikh Khalil Ahmad As-Sharanpuri dan Syaikh Asyraf Ali At-Tanwi. Waktu itu tiba waktu shalat Ashar. Mereka meminta Maulana Ilyas untuk mengimami shalat tersebut. Setelah kematian kakaknya, Maulana Muhammad Yahya, pada 9 Agustus 1925, orang ramai meminta kepada Maulana Ilyas untuk menggantikan kakaknya di Nizamuddin. Waktu itu beliau sedang menjadi salah seorang pengajar di Madrasah Mazhahirul Ulum. Akhirnya, setelah mendapat izin dari Maulana Khalil Ahmad dengan pertimbangan jika tinggalnya di Nizamuddin membawa manfaat maka Maulana Ilyas diberi kesempatan untuk berhenti mengajar.
Beliau akhirnya pergi ke Nizamuddin, ke madarasah warisan ayahnya yang kosong akibat lama tidak dihuni. Dengan semangat mengajar yang tinggi beliau membuka kembali madrasah tersebut. Semangat yang tinggi untuk memajukan agama, beliau pun mendirikan Maktab di Mewat. Namun kondisi geografis yang agraris menyebabkan masyarakatnya lebih menyukai anak-anak mereka pergi ke kebun atau ke sawah daripada ke Madrasah atau Maktab untuk belajar agama, membaca atau menulis. Maulana Ilyas dengan terpaksa meminta orang Mewat untuk menyiapkan anak-anak mereka untuk belajar dengan biaya yang ditanggung oleh Maulana sendiri. Besarnya pengorbanan Maulana hanya untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat tidak mendapatkan perhatian. Mereka enggan menuntut ilmu dan lebih senang hidup dalam kondisi yang sudah dijalani turun temurun. Melihat keadaan Mewat itu, semakin menambah kerisauan beliau akan keadaan umat Islam. Kunjungan-kunjungan diadakan bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat Mewat. Dengan izin Allah timbullah keinginannya untuk mengirimkan jamaah dakwah ke Mewat.
Pada tahun 1351 H/1931 M, beliau menunaikan haji yang ketiga ke Tanah Suci Makkah. Kesempatan tersebut dipergunakan untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab guna mengenalkan usaha dakwah. Selama di Makkah, jamaah bergerak setiap hari sejak pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak orang taat kepada perintah Allah. Dalam pandangan Maulana Muhammad Ilyas, dakwah merupakan kewajiban umat Nabi Muhammad SAW. Pada prinsipnya setiap orang yang mengaku mengikuti ajaran Nabi Muhammad memiliki kewajiban mendakwahkan ajarannya, yaitu agar selalu taat kepada Allah dengan cara yang telah dicontohkan Rasulullah. Sepulang dari haji, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jamaah dengan jumlah sekitar seratus orang. Dalam kunjungan tersebut beliau selalu membentuk jamaah-jamaah yang dikirim ke kampung-kampung untuk ber-jaulah (berkeliling dari rumah ke rumah) guna menyampaikan pentingnya agama. Beliau sepenuhnya yakin bahwa kebodohan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerusakan. Dari Mewat inilah secara berangsur-angsur usaha tabligh meluas ke Delhi, United Province, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga di bandar-bandar pelabuhan banyak jamaah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditargetkan sepeti halnya daerah Asia Barat. Terbentuknya jamaah ini adalah dengan izin Allah melalui kerisauan seorang Maulana Muhammad Ilyas. Kemudian menyebarlah jamaah-jamaah tabligh yang membawa misi ganda yaitu ishlah diri (perbaikan diri sendiri) dan mendakwahkan kebesaran Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Perkembangan jamaah ini semakin hari semakin tampak. Gerakan jamaah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah menyebar ke barbagai negara. Hanya kekuasaan Allah yang dapat memakmurkan dan membesarkan usaha ini.
Pada hari terakhir dalam sejarah hidupnya, Maulana mengirim utusan kepada Syaikhul Hadits Maulana Zakariya, Maulana Abdul Qodir Raipuri, dan Maulana Zafar Ahmad, bahwa beliau akan mengamanahkan kepercayaan sebagai amir jamaah kepada sahabat-sahabatnya seperti Hafidz Maqbul Hasan, Qozi Dawud, Mulvi Ihtisamul Hasan, Mulvi Muhammad Yusuf, Mulvi Inamul Hasan, Mulvi Sayyid Raza Hasan. Pada saat itu terpilihlah Mulvi Muhammad Yusuf sebagai pengganti Maulana Muhammad Ilyas dalam memimpin usaha dakwah dan tabligh. Pada sekitar bulan Juli 1944 beliau jatuh sakit yang cukup parah. Kondisi tubuhnya yang lemah merupakan bukti bahwa beliau bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mengembara dari satu tempat ke tempat lain bersama dengan jamaah untuk mendakwahkan kebesaran Allah. Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya, beliau pulang ke rahmatullah sebelum adzan Shubuh.
Beliau tidak banyak meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan umat. Buah pikiran beliau dituang dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Numani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini.
Usaha Dakwah dan Tabligh yang sekarang telah mendunia ini, bukanlah usaha yang muncul dengan tiba-tiba. Usaha yang pernah membawa kejayaan umat di masa lalu ini dibangkitkan kembali melalui kerisauan, pengkajian, pengalaman, dan pengorbanan yang mendalam dari Maulana Ilyas Kandahlawi (rahmatullah alaih). Usaha ini dimulai di kalangan orang Meo yang mendiami kawasan Mewat di sebelah selatan Delhi, India.
Orang-orang Meo, meskipun secara lahir banyak yang mengaku beragama Islam, tetapi dari segi adat istiadat, ibadah dan kebudayaan sangat jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan sebagian besar terpengaruh ajaran lain yang berkembang di India. Di samping merayakan hari raya Islam mereka juga merayakan hari raya agama lain. Umumnya mereka buta huruf, berakhlak buruk, kasar dan terkenal sebagai peminum ulung, mereka juga dikenal suka merampok dan mencuri.
Mereka menjalani kehidupan semacam itu selama beratus-ratus tahun, keadaan seperti ini membuat mereka tertinggal dan tersisih dari dunia luar. Meskipun mereka hidup di dekat pusat pemerintahan Delhi, mereka selalu dalam keadaan terasing dan terpinggirkan. Pendek kata, sifat dan tabiat mereka mirip seperti kaum jahiliyyah di masa Nabi Muhammad SAW, di kalangan seperti inilah Maulana Ilyas memulai gerakan dakwah.
Hubungan dengan orang Meo, sebenarnya telah dirintis oleh Maulana Muhammad Ismail, ayahanda Maulana Ilyas sendiri, kebetulan beliau tinggal di Basthi Nizamuddin yang merupakan jalan masuk ke Mewat. Hubungan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Maulana Ismail dan kemudian dilanjutkan oleh Maulana Ilyas untuk menarik mereka kembali kepada kehidupan agama yang sebenarnya.
Setiap ada waktu untuk bertemu, Maulana selalu menggunakan kesempatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan agama dan membiasakan mereka dengan peraturan dan rukun-rukun syariat. Keluarga Maulana juga memelihara anak-anak Mewat dan mendidik mereka dalam madrasah dan kemudian mengirim kembali ke Mewat untuk berdakwah. Dengan cara ini, sedikit kesadaran mengenai pentingnya agama mulai tumbuh di kalangan mereka.
Untuk lebih menanamkan lagi pengetahuan agama di kalangan mereka, Maulana Ilyas menyarankan agar mereka mendirikan madrasah untuk mendidik anak-anak mereka. Setiap kali orang Meo mengundang Maulana, pendirian Madrasah ini selalu menjadi hal yang disyaratkan oleh Maulana.
Bagi orang Mewat, mendirikan madrasah merupakan syarat yang yang sangat berat dan hampir merupakan hal yang mustahil, mereka beralasan anak-anak mereka tidak dapat lagi bekerja dan berarti mengurangi pendapatan mereka. Tetapi dengan bujuk rayu, akhirnya madrasah ini berhasil didirikan. Maulana berkata kepada mereka, “Beri aku murid , aku akan menyediakan uang!” Semua biaya untuk keperluan madrasah keluar dari saku beliau. Alhamdulillah, akhirnya dalam waktu singkat, puluhan bahkan ratusan madrasah kemudian berhasil didirikan.
Kerisauan Maulana Ilyas, tidak berhenti sampai di situ saja. Dalam pandangan beliau, ternyata madrasah ini tidak memberi pengaruh yang signifikan dalam usaha perbaikan agama. Madrasah tidak bebas dari pengaruh lingkungan yang tidak mendukung, di samping itu para siswa yang telah lulus juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk meningkatkan iman.
Pengaruh madrasah ini juga hanya terbatas untuk anak-anak yang sebenarnya belum matang kejiwaannya, sementara orang dewasa hampir tidak tersentuh sama sekali, padahal sebenarnya orang dewasa lah yang paling memerlukan usaha perbaikan ini, karena mereka para pemimpin rumah tangga yang akan mengemudikan kendali keluarga, yang merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat.
Pengalaman inilah yang menyadarkan Maulana bahwa usaha perbaikan ini tidak bisa bergantung pada perbaikan diri secara perorangan atau membatasi hanya kepada kelas tertentu saja. Perbaikan ini harus diusahakan ke atas masyarakat umum. Atas dasar itu lah kemudian dibentuk jamaah-jamaah dan dikirim ke berbagai wilayah di sekitar Mewat, seperti ke Kandhla, kampung asal Maulana Ilyas sendiri dan berbagai tempat lainnya.
Bukan perkara yang mudah untuk untuk meminta orang agar keluar meninggalkan rumahnya dan menangguhkan pekerjaan mereka walau sebentar, belum lagi kesulitan di tempat mereka keluar, apakah mereka mau menerima orang-orang Mewat yang biasa bertabiat kasar dan berkelakuan kurang baik tersebut.
Usaha membentuk jamaah ini bukan usaha yang mudah, usaha ini harus melalui berbagai rintangan dan jalan yang terjal. Untuk usaha ini Maulana Ilyas telah mencurahkan segala pengorbanan yang beliau bisa lakukan berupa waktu, pikiran, kerisauan dan harta benda beliau.
Hari ini, kita telah menerima usaha dakwah dalam bentuk yang “jadi”. Mudah-mudahan, dengan segala mujahadah, kita dapat melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Maulana Ilyas dan para masyaikh tersebut. Insyaallah